Dari Manuskrip ke Dunia Digital: Undip Global Classroom Kenalkan Portal Qalamos

Program Studi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro (Undip) kembali mengadakan Undip Global Classroom sebagai ajang pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik di tingkat internasional dengan tema “Preservasi dan Konservasi Naskah dalam Portal Qalamos”. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom pada Senin, 25 Mei 2026, pukul 13.00–15.30 WIB, menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Dr. Thoralf Hanstein dan Dr. Yoones Dehghani Farsani, serta terbuka secara gratis bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat yang memiliki minat terhadap kajian naskah dan humaniora digital.

Salah satu fokus pembahasan pada kegiatan ini adalah “Portal Qalamos”, sebuah platform digital yang berperan dalam dokumentasi, pengelolaan, dan penyediaan akses terhadap koleksi naskah dari berbagai wilayah dan institusi. Melalui portal ini, peneliti dan masyarakat dapat mengakses data naskah secara lebih mudah, sehingga mendukung penelitian filologi, sejarah, dan kebudayaan secara lebih luas. Kehadiran platform digital seperti Qalamos juga dinilai mampu mengurangi risiko kerusakan akibat penggunaan fisik naskah yang berulang.

Selain pembahasan mengenai aspek teknis digitalisasi, Dr. Dehghani menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pelestarian naskah. Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan sumber daya, kondisi fisik naskah yang rentan, serta pentingnya kolaborasi antara lembaga akademik, perpustakaan, arsip, dan masyarakat. Menurut tim Qalamos, pelestarian naskah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan lintas disiplin dan lintas negara. Oleh karena itu perlu adanya tahapan dalam penyempurnaan portal.

Dr. Dehghani kemudian menguraikan sejarah serta tahapan pengembangan terhadap Qalamos. Pada tahap pertama (2020-2023), fokus diarahkan pada pendokumentasian sekitar 22.000 manuskrip berbahasa Arab, Persia, dan Turki Utsmani. tahap kedua (2024-2026) mencakup koleksi naskah dari tradisi tulisan Asia Selatan, sementara tahap ketiga (2027-2029) direncanakan untuk mengintegrasikan koleksi naskah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Proyek ini melibatkan lebih dari 25 institusi mitra lintas negara dan telah menghasilkan lebih dari 180.000 entri manuskrip, dengan lebih dari 30.000 di antaranya telah terhubung dengan salinan digital. Selanjutnya, dipaparkan pula struktur data dalam portal Qalamos yang terdiri atas catatan manuskrip, tokoh, dan judul karya. Sistem ini memungkinkan pengguna menelusuri keterkaitan antara manuskrip, pengarang, karya, serta lokasi melalui pemanfaatan authority files. Selain itu, Qalamos juga menyajikan ribuan catatan manuskrip dan dokumentasi seni buku yang memperkaya penelitian lanjutan.

Sebagai penutup, Dr. Dehghani memaparkan rencana pengembangan Qalamos di masa mendatang, yang mencakup perluasan kerja sama dengan berbagai institusi internasional serta peningkatan mutu data yang telah dihimpun. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai urgensi digitalisasi dan integrasi data manuskrip sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus peningkatan akses terhadap warisan intelektual dan budaya global.