Dari Sastra Indonesia UNDIP ke Kursi Kepemimpinan Daerah

(Perjalanan H. Sukirman, S.S., M.S.: Membaca Masyarakat Lewat Jalan Politik)

Tidak semua sarjana sastra berakhir di ruang kelas atau dunia buku. Sebagian justru melangkah ke ruang yang jauh lebih keras: panggung politik dan kebijakan publik. Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah perjalanan H. Sukirman, S.S., M.S., alumni Sastra Indonesia Universitas Diponegoro angkatan 1994, yang kini aktif dalam dunia pemerintahan daerah. Dari bangku kuliah di Fakultas Ilmu Budaya UNDIP, ia menempuh jalan panjang sebelum akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Bupati Pekalongan periode 2025–2030 (sekarang Plt. Bupati Pekalongan)

Bagi sebagian orang, sastra identik dengan puisi, novel, atau karya imajinatif. Namun bagi Sukirman, sastra justru menjadi cara awal untuk memahami manusia. Di ruang kuliah Sastra Indonesia UNDIP, ia belajar bahwa setiap teks bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga cerminan kehidupan sosial. Cara berpikir ini kemudian membentuk fondasi penting dalam perjalanan kariernya: membaca masyarakat seperti membaca teks—penuh simbol, konflik, dan makna yang tersembunyi. Baginya, menjadi alumni sastra menjadi titik awal perjalanan panjang yang tidak hanya berkutat pada dunia akademik, tetapi juga pada dunia sosial dan politik yang dinamis.

Sebelum masuk ke dunia politik formal, Sukirman lebih dulu aktif di berbagai kegiatan organisasi sosial dan kemasyarakatan. Dunia organisasi inilah yang menjadi “laboratorium sosial” tempat ia belajar tentang kepemimpinan, komunikasi publik, dan dinamika kepentingan masyarakat. Banyak pengamat politik menyebut bahwa pengalaman organisasi sering menjadi pintu masuk utama bagi lahirnya elite politik daerah di Indonesia. Di ruang inilah kemampuan negosiasi, komunikasi, dan pemahaman sosial ditempa secara langsung.

Karier politik H. Sukirman berkembang secara bertahap. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi strategis di DPRD Provinsi Jawa Tengah, termasuk sebagai Wakil Ketua DPRD selama dua periode. Di lembaga legislatif, ia terlibat dalam proses perumusan kebijakan daerah, mulai dari pembangunan ekonomi, infrastruktur, hingga aspirasi masyarakat di tingkat akar rumput.

Politik yang Dekat dengan Masyarakat

Salah satu hal yang menonjol dari perjalanan Sukirman adalah pendekatan politik yang berakar pada pengalaman sosial. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal menekankan pentingnya pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada manusia di balik angka tersebut. Mulai dari penguatan UMKM, ekonomi lokal, hingga pemberdayaan masyarakat desa menjadi bagian dari fokus kebijakannya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa politik tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang memahami cerita masyarakat.

Menariknya, latar belakang Sastra Indonesia sering kali tidak terlihat langsung dalam dunia politik. Namun dalam kasus Sukirman, justru sebaliknya. Kemampuan membaca narasi sosial, memahami bahasa masyarakat, dan menangkap makna di balik percakapan publik menjadi modal penting dalam membangun komunikasi politik yang lebih manusiawi. Dalam perspektif humaniora, kemampuan ini disebut sebagai social literacy—kemampuan memahami manusia melalui bahasa, simbol, dan cerita (Nussbaum, 2010).

UNDIP dan Jejak Alumni di Berbagai Sektor

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu humaniora yang melahirkan lulusan di berbagai bidang: pendidikan, media, budaya, hingga pemerintahan. H. Sukirman menjadi salah satu contoh bagaimana alumni Sastra Indonesia dapat mengambil peran strategis di luar dunia akademik. Ia menunjukkan bahwa ilmu sastra tidak berhenti di teks, tetapi bisa hidup dalam kebijakan publik.

Perjalanan Sukirman memperlihatkan satu hal penting: bahwa pendidikan humaniora memiliki relevansi nyata dalam kehidupan publik. Di tengah dunia politik yang sering kali teknokratis, kehadiran pemimpin dengan latar belakang humaniora membawa warna berbeda—lebih komunikatif, lebih empatik, dan lebih dekat dengan narasi masyarakat.

Perjalanan H. Sukirman, S.S., M.S. sebagai alumni Sastra Indonesia UNDIP hingga menjadi pemimpin daerah menunjukkan bahwa jalur karier manusia tidak pernah linear. Dari ruang kelas sastra, ia melangkah ke ruang organisasi, kemudian ke ruang politik, dan akhirnya ke ruang pengabdian publik yang lebih luas. Kisah ini menjadi pengingat bahwa memahami manusia adalah inti dari semua bidang—baik sastra maupun politik. Dan di titik itu, keduanya sebenarnya berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa kehidupan